Disadari atau tidak masalah klasik yang dialami ibadah minggu, khususnya GKJ adalah tentang musik pengiring. Seringkali pemusik (organis) mengalami kesulitan dalam mengiringi jemaat bernyanyi. Iringan cenderung melambat dari tempo yang seharusnya. Kehadiran Song Leader yang seharusnya dapat membantu pun seakan tak ada gunanya. Padahal nyanyian pujian dapat mengantar suasana menuju penyampaian renungan. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, puji-pujian digunakan sebagai sebuah ritual khusus untuk membuka sebuah upacara. Bahkan kokohnya tembok Yerikho dapat dirobohkan dengan puji-pujian kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa puji-pujian begitu pentingnya dalam sebuah ibadah. Untuk itu, berdasarkan pengalaman saya selama menjadi organis GKJ, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan :
- Nada dasar yang tertulis dalam teks adalah nada standard, tetapi untuk mengiringi sebuah ibadah perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Saya mempunyai strategi khusus untuk itu. Nada C digunakan untuk not tertinggi re pada teks, nada D untuk tertinggi do, nada E untuk si, nada F untuk la, nada G untuk sol, nada A untuk fa, nada B untuk mi
- Accord (tangan kiri) harus bisa berfungsi sebagai rhytm
- Bas kaki digunakan untuk membangun irama yang tepat
- Organis jangan terpaku pada melody. Sebaiknya melodi digunakan pada saat mengambil intro, kecuali untuk lagu baru (belum pernah dinyanyikan)
- Bagian yang tidak boleh dilupakan adalah datang lebih awal pada jam kebaktian, sehingga bisa menjalin kekompakan dengan Song Leader

Tidak ada komentar:
Posting Komentar